Wahai Para Da'I dan Penuntut Ilmu, Waspadai Ghurur
Penulis: Al-Ustadz Qomar ZA
Ghurur adalah suatu sifat yang menipu pemiliknya. Dia adalah suatu kebodohan yang membuat seseorang menilai sesuatu yang jelek sebagai sesuatu yang baik dan kesalahan sebagai sesuatu kebenaran. Demikian dijelaskan oleh Ibnul Jauzi di dalam bukunya Talbis Iblis. Sifat ini muncul kerana syubhat atau kerosakan pemikiran yang membuatnya salah di dalam menilai. Iblispun masuk untuk menggoda manusia seukuran kemampuannya dan akan semakin mantap cengkamannya terhadap seseorang atau semakin melemah seiring dengan ukuran kesedaran atau kelalaian orang tersebut, juga sebatas kebodohan atau keilmuannya. Demikian beliau jelaskan di dalam kitab tersebut.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencela sifat ini di dalam banyak ayat Al-Qur’an. Ini kerana sifat ini telah membuat sekian ramai manusia terjatuh ke dalam lubang kehinaan dan kerugian, yang tentunya murka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mereka rasakan. Orang kafir dan para munafik adalah sebahagian contoh daripada sekian banyak contoh korban sifat ghurur. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
?????????????? ?????? ?????? ???????? ??????? ????? ????????????? ?????????? ???????????? ??????????????? ????????????? ????????????? ????????????? ?????? ????? ?????? ????? ??????????? ??????? ??????????
“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: ‘Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?’ Mereka menjawab: ‘Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu’.” (Al-Hadid: 14)
Yakni kalian tertipu oleh syaitan sehingga kalian tidak mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan seagung-agungnya. Sehingga kalian tidak mengetahui kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap kalian. Akhirnya kalianpun mengira bahawa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengetahui kebanyakan daripada apa yang kalian lakukan. (Zubdatut Tafsir)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menerangkan tentang keadaan orang kafir yang tertimpa ghurur sehingga tertipu oleh gemerlapnya kehidupan dunia:
???????? ??????????? ???????????? ???????? ????? ??????? ????????????? ?????????? ?????????? ??????????? ??? ??????????? ??????? ????? ???? ???????????????
“Yang demikian itu, kerana sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat.” (Al-Jatsiyah: 35)
Demikian mereka dihancurkan oleh ghurur, sehingga mereka menuai hasil yang teramat getir di akhirat. Janganlah mengira bahawa hanya mereka yang tertimpa ghurur. Ternyata kaum muslimin pun, daripada berbagai macam status sosial mereka, bahkan para ulama, para da’i, dan para penuntut ilmu juga banyak yang tertimpa ghurur. Sesungguhnya ini lah realiti yang menyedihkan.
Ibnu Qudamah menjelaskan bagaimana ghurur ini menimpa orang-orang yang berilmu. Di antara mereka ialah orang-orang yang menekuni ilmu syar’i akan tetapi mereka melalaikan pengawasan terhadap amal anggota badan mereka dan penjagaan daripada perbuatan-perbuatan maksiat, serta lalai untuk menekan diri mereka agar sentiasa taat. Mereka tertipu dengan ilmu yang ada pada mereka sehingga mereka menyangka bahawa mereka mempunyai tempat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Padahal apabila mereka melihat dengan ilmu mereka tentu akan tahu bahawa ilmu tidak dimaksudkan dengannya kecuali amal. Kalaulah bukan kerana amal tentu ilmu tersebut tidak bernilai, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
???? ???????? ???? ?????????
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu.” (Asy-Syams: 9)
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengatakan: telah beruntung orang yang mempelajari ilmu bagaimana cara menyucikannya.
Orang yang tertimpa ghurur seperti ini, apabila syaitan membisikkan kepadanya tentang keutamaan para ulama, maka hendaklah mereka ingat kepada ayat-ayat yang menerangkan kepada kita tentang orang-orang yang berilmu tetapi bermaksiat. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
??????? ?????????? ?????? ??????? ???????????? ??????????? ??????????? ??????? ???????????? ???????????? ??????? ???? ???????????. ?????? ??????? ????????????? ????? ??????????? ???????? ????? ????????? ?????????? ??????? ?????????? ???????? ????????? ???? ???????? ???????? ???????? ???? ?????????? ???????? ?????? ?????? ????????? ????????? ????????? ??????????? ????????? ????????? ??????????? ??????????????
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (darjat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing. Jika kamu menghalaunya dijelirkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjelirkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (Al-A’raf: 175-176)
?????? ????????? ????????? ???????????? ????? ???? ???????????? ???????? ?????????? ???????? ?????????? ?????? ?????? ????????? ????????? ????????? ???????? ????? ??????? ??? ??????? ????????? ?????????????
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keldai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (Al-Jumu’ah: 5)
Di antara mereka ada sekelompok yang menekuni ilmu dan amal lahiriah tapi tidak mengawasi hati mereka agar menghapuskan daripada diri mereka sifat-sifat yang tercela, seperti sombong, hasad atau iri dan dengki, riya’ dalam amal, mencari populariti, ingin lebih unggul daripada yang lain.
Mereka telah menghiasi lahiriah mereka, akan tetapi melupakan batin mereka dan mereka lupa terhadap hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
????? ????? ??? ???????? ????? ?????????? ??????????????? ???????? ???????? ????? ??????????? ???????????????
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada penampilan-penampilan dan harta benda kalian. Akan tetapi melihat kepada hati dan amal kalian.” (Shahih, HR. Muslim dan Ibnu Majah dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Sekelompok yang lain mengetahui bahawa akhlak-akhlak batin tersebut tercela. Namun kerana sifat bangga diri yang tersimpan pada mereka, mereka merasa aman bahkan merasa telah terbebas daripada sifat-sifat tercela itu. Mereka merasa lebih tinggi untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala timpakan pada mereka sifat-sifat itu, bahkan -menurut mereka- yang tertimpa itu adalah mereka yang masih awam. Bila muncul di dalam diri mereka percik kesombongan, merekapun mengatakan dalam diri mereka, ‘Ini bukan sombong. Bahkan ini adalah demi kemuliaan agama dan untuk menampakkan kemuliaan ilmu, serta merendahkan ahli bid’ah.’ Enggan berteman dengan orang-orang yang lemah, hany mahu dengan orang yang berpangkat atau berduit, merasa hina bila berteman dengan kaum yang lemah.
Mereka tertipu oleh ghurur. Mereka lupa bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum dahulu adalah orang-orang yang tawadhu’. Mereka bergaul dengan kaum dhuafa, bahkan mereka mengutamakan kefakiran dan kemiskinan.
Diriwayatkan bahawa ‘Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu dahulu ketika pergi menuju Syam beliau mendapati sungai yang mesti diseberangi. Maka turunlah beliau daripada untanya dan melepaskan dua kasutnya lalu membawanya B mencebur dan menyeberangi sungai itu dengan untanya. Saat itu berkatalah Abu ‘Ubaidah kepadanya: “Sungguh pada hari ini engkau telah melakukan sesuatu yang besar di mata penduduk bumi.” Umar pun menepuk dadanya dan mengatakan: “Duhai seandainya selainmu yang mengatakan kata-kata ini, wahai Abu Ubaidah. Sesungguhnya kalian (bangsa Arab) dahulu adalah orang-orang yang paling hina dan rendah, lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala angkat kalian dan muliakan kalian dengan sebab mengikuti Rasul-Nya. Maka seandainya kalian mencari kemuliaan dengan selain jalan itu nescaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghinakan kalian.”
Sekelompok yang lain juga tertimpa ghurur, mereka mencari kesenangan dunia, kemuliaan, kemudahan, kecukupan dengan memperalatkan penampilan kealiman atau keshalihannya. Bila muncul pada mereka percikan riya’, diapun mengatakan dalam dirinya: “Saya hanya bermaksud menampakkan ilmu dan amal agar orang mengikuti saya, agar orang mendapat hidayah kepada ajaran ini.”
Padahal jika tujuan mereka benar-benar untuk memberi jalan hidayah untuk manusia, tentu dia akan merasa senang ketika manusia mendapat hidayah melalui selain tangannya. Sebagaimana senangnya ketika manusia mendapat hidayah melalui tangannya. Ini kerana sesiapa saja yang tujuan dakwahnya adalah memperbaiki manusia, maka dia akan merasa senang ketika manusia menjadi baik melalui tangan siapapun.
Masih ada sekelompok yang lain. Mereka menekuni ilmu, membersihkan amal anggota badan mereka, serta menghiasinya dengan ketaatan, dan mengawasi amal hati mereka agar bersih daripada riya, hasad, dan sombong. Akan tetapi masih tersisa di sela-sela hatinya, tipu daya syaitan yang tersembunyi dan bahkan tipu daya jiwanya yang juga tersembunyi. Dia tidak sedar akan kewujudannya. Engkau lihat mereka berupaya sungguh-sungguh dalam beramal dan memandang bahawa faktor pendorongnya adalah menegakkan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tapi pada kenyataannya terkadang pendorongnya adalah mengharap sebutan orang terhadapnya. Sehingga terkadang muncul sikap merendahkan yang lain melalui sikapnya menyalah-nyalahkan yang lain, merasa dirinya lebih mulia dari yang lain.
Ini dan yang sejenisnya merupakan cacat yang tersembunyi. Tidak mampu dikesan kecuali oleh mereka yang kuat dan cermat serta tentunya mendapat taufiq dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun orang-orang seperti kami yang lemah ini maka kecil harapannya. Namun paling tidaknya seseorang mengetahui aib dirinya dan berusaha untuk memperbaikinya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah bersabda:
???? ????????? ?????????? ?????????? ???????????? ?????? ????????
“Barangsiapa yang kebaikannya menyenangkannya dan kejelekannya menyusahkannya maka dia seorang mukmin.” (Shahih, HR Ath-Thabarani dari sahabat Abu Musa radhiyallahu ‘anhu dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir)
Orang yang seperti itu masih boleh diharapkan. Berbeza dengan mereka yang menganggap suci dirinya dan merasa dirinya termasuk orang-orang yang terpilih.
Inilah ghurur yang menimpa orang-orang yang memperoleh ilmu agama. Bagaimana kiranya dengan mereka yang puas dengan ilmu yang tidak penting dan meninggalkan yang penting? Wallahul musta’an.
http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=709
http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1350





